Ini adalah Notes yang saya posting di Facebook pada Januari 2009 lalu, dan inilah cikal bakal nama Merry and Assocaites.
“Kenapa ngga bikin aja Merry and Assocaites namanya?” Suara tegas dengan logat Jawatimuran itu masih tergiang di telingaku. Padahal sudah berlalu sekitar lima tahun silam, saat kami bersua beberapa kali dan sudah saling tahu apa obsesi kami masing-masing di masa depan. Pak Lendy alias Om Lendy, begitu aku sering meledeknya, bermimpi ingin jadi fotografer prosesional, mengikuti naluri petualangannya. Saat itu Om Lendy masih seorang lelaki berdasi yang terikat duduk di belakang meja. Ia mengaku sumpek dengan situasi itu, ingin lebih banyak di lapangan. Sedangkan aku ingin jadi lebih mandiri, bukan lagi karyawan 100% seperti saat itu.
“Aku lagi di kaki Merapi, Mer.” Begitu tulisanya di Yahoo Messenger (YM). “Panas banget di sini, bisa meleleh aku kalo kelamaan,” lanjut pesan instan itu. “Pulang aja Om, leyeh-leyeh di rumah,” ledekku. Tapi Om Lendy bahagia, sebab sudah mulai sukses mewujudkan mimpinya untuk jadi fotografer profesional. Tak lagi berdasi dan duduk di belakang meja. Aku saat itu sudah mulai berani melangkah lebih jauh, tak lagi menggantungkan diri pada gaji bulanan belaka. Kami sama-sama sudah mulai mewujudkan impian yang kami gelindingkan.
“Fotoku dimuat di koran daerah tanpa izin, Mer.” Begitu pesan dari YM Om Lendy. “Wah, kurang ajar, koran mana tuh Om?” Aku jadi panas mendengar perlakuan curang terhadap Om-ku yang satu ini. “Ndak apalah, aku ndak mau perpanjang urusannya.” Saat itu Om Lendy adalah fotografer resmi acara pernikahan anak Sri Sultan. Yah, Om kita ini sudah mantab surantab sebagai fotografer profesional. Dan aku sudah keluar dari media tempatku bekerja selama enam tahun, mulai menjejak ke jenjang yang lebih profesional.
Aku masih ingat semua detail perbincangan kita. Semua detail canda-canda kita. Bahkan semua status di YM seorang Lendy Widayana, aku ingat! Aku masih memandangi terus namamu di YM, Om Lendy. Aku berharap kau akan online dan kita saling menggelindingkan mimpi.
Nama Lendy Widayana memang tidak sehingar bingar Roy Suryo, Onno Purbo, Budi rahardjo, I Made Wiryana, Kusmayanto Kadiman, Romi Satria Wahono, Heru Sutadi, dan semua selebritas dunia IT itu. Nama Lendy Widayana memang terkesan sederhana, bersahaja, sama bersahajanya dengan gaya seorang Om Lendy yang kukenal. Rokoknya saja masih Djie Sam Soe, yang sering kuledek sebagai rokok abang becak. “Nongkrong di kafe elit, kok rokoknya rokok abang-abang sih,Om!” Tapi aku juga mencomot rokok itu, menikmatinya bersama dengan seduhan kopi hitam.
Om Lendy begitu bangga dengan istrinya, Mbak Dona, yang begitu pengertian dengan jiwa petualangan dan idealismenya. Om Lendy memang tidak banyak diekspos media massa ternama, tapi namanya akan selalu lekat di hati banyak orang, aku yakin itu! Om, semoga kamu bahagia ya sekarang. Kalau dapet foto bagus di alam baka sana, tolong kirim ke aku ya Om…!
Tags: creativity, ideas